Budi Daya Tanaman Kakao (Theobroma Cacao)

Tanaman kakao (Theobroma Cacao) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang diusahakan di Indonesia baik oleh perkebunan besar (PTP/PNP/PTPN atau swasta) maupun oleh rakyat. Tanaman kakao pertama sekali dibawa ke Indonesia oleh orang-orang Spanyol dan Meksiko melalui Sulawesi pada tahun 1560.

Pada tahun 1806 mulai ditanam di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah dan pengusahaan secara komersil dilakukan pada tahun 1880. Perkebunan besar di Sumatera Utara mulai mengusahakan penanaman kakao sekitar tahun 1956. Sebagai daerah asal tanaman kakao adalah dari daerah aliran hulu sungai Amazone dan sungai Orinoco, di daerah kaki pegunungan  Andes (Amerika Selatan bagian utara).

Klasifikasi.

Tanaman kakao dapat dibagi dalam 2 tipe besar, yaitu :

1. CRIOLLO (Kakao Mulia) :

  • Criollo Amerika Tengah
  • Criollo Amerika Selatan

Kakao ini merupakan kakao mutu tinggi yang sering disebut Edel Cacao atau Fine Flavor Cacao.

Dan ciri-cirinya adalah :

-          Buah berbentuk bulat telur

-           Buah muda / mentah berwarna merah dan orange bila sudah masak

-          Buah mempunyai alur (10 alur berselang seling terdiri dari 5 alur yang dalam dan 5 alur yang dangkal)

-          Ujung buah tumpul dan sedikit bengkak

-          Jumlah biji 30-40 berbentuk bulat dan penuh serta rasanya manis /  agak manis

-          Biji berwarna putih

-          Waktu fermentasi singkat 3-4 hari

-          Pulp / daging biji tipis

-          Berat biji kering 1-2 gram

-          Kandungan lemak / cocoa butter ± 56%

-          Daun relatif kecil dan tunas muda berbulu

-          Aroma dan rasa lebih baik

2. FORASTERIO (Kakao Lindak)

  • Forasterio Amazone
  • Trinitario

Dan ciri-cirinya adalah :

-          Bentuk buah umumnya bulat sampai bulat telur

-          Buah muda berwarna hijau dan kuning bila tua

-          Kulit buah halus dank eras

-          Alur tidak begitu dalam

-          Biji berwarna ungu

-          Biji berbentuk gepeng dan kecil

-          Berat biji kering ± 1 gr

-          Kandungan lemak ± 56%

-          Aroma kurang dan rasanya agak pahit

Hasil persilangan jenis kakao Java Criollo dengan Forasterio Venezuela dari Hibrida Trinitaria akhirnya dihasilkan klon-klon ; DR 1, DR 2, DR 38, yang merupakan bahan tanaman utama kakao mulia Indonesia,

Pada tahun 1973, bahan tanaman kakao didatangkan dari Malaysia ke Sumatera Utara. Nama bahan tersebut adalah Upper Amazone Hibrid, yaitu suatu tipe kakao lindak. Bulk Cacao berasal dari tipe Forasterio dan banyak dihasilkan dari negara-negara Ivory Coast, Brazil, Ghana, Nigeria, Camerun dan Malaysia.

Bahan industry biji kakao kering dapat dimanfaatkan sebagai sumber lemak / cacao butter, yang dapat dipergunakan dalam industri pangan, kosmetik dan farmasi serta sebagai sumber “Flavoring Agent” dalam industri pangan.

Dalam industri pangan, biji kakao yang digunakan dalam pembuatan coklat / Chocolate Confectionery, berasal dari tanaman kakao mulia dan kakao lindak. Kedua bahan baku biji kakao ini diperlukan karena biji kakao mulia mempunyai citarasa dan aroma yang enak serta warna yang cerah. Biji kakao mulia hanya digunakan sebagai bahan pencampur (blending) atau sebagai bahan pelengkap dalam pembuatan hasil akhir industri coklat.

Penanaman kakao.

  • Persiapan Lahan

-          Bersihkan alang-alang dan gulma lainnya

-          Gunakan tanaman penutup tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan seperti Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides & C. caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan

-          Gunakan juga tanaman pelindung seperti Lamtoro, Gleresidae dan Albazia, tanaman ini ditanam setahun sebelum penanaman kakao dan pada tahun ketiga jumlah dikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao (1 : 3)

  • Pembibitan

-          Biji kakao untuk benih diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur

-          Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok

-          Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segera dikecambahkan

-          Pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan, dilakukan penyiraman 3 kali sehari

-          Siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan

-          Campurkan tanah dengan pupuk kandang (1 : 1), masukkan dalam polibag

-          Sebelum kecambah dimasukkan tambahkan 1 gram pupuk TSP / SP-36 ke dalam tiap-tiap polibag

-          Benih dapat digunakan untuk bibit jika 2-3 hari berkecambah lebih 50%

-          Jarak antar polibag 20 x 20 cm lebar barisan 100 cm

-          Tinggi naungan buatan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga sinar masuk tidak terlalu banyak

-          Penyiraman bibit dilakukan 1-2 kali sehari

-          Penyiangan gulma melihat keadaan areal pembibitan

-          Pemupukan dengan N P K ( 2 : 1 : 2 ) dosis sesuai dengan umur bibit

  1. 1 bulan : 1 gr/bibit
  2. 2 bulan ; 2 gr/bibit
  3. 3 bulan : 3 gr/bibit
  4. 4 bulan : 4 gr/bibit

Pemupukan dengan cara ditugal

-          Penjarangan atap naungan mulai umur 3 bulan dihilangkan 50% sampai umur 4 bulan

-          Amati hama dan penyakit pada pembibitan, antara lain ; rayap, kepik daun, ulat jengkal, ulat punggung putih, dan ulat api serta jamur Phytopthora dan Cortisium

  • Penanaman

Pengajiran

-          Ajir dibuat dari bambu tinggi 80 – 100 cm

-          Pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya

-          Untuk meluruskan ajir gunakan tali sehingga diperoleh jarak tanam yang sama

Lubang tanam

-          Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm pada akhir musim hujan

-          Berikan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah (1:1) ditambah pupuk TSP 1-5 gram per lubang

Tanam bibit

-          Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik dan naungan sementara sudah berumur 1 tahun

-          Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari dengan pohon kelapa

-          Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao mulia ditanam setelah bibit umur 6 bulan, kakao lindak umur 4-5 bulan

-          Penanaman saat hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda

  • Pemeliharaan tanaman

-          Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon

-          Dibuat lubang pupuk disekitar tanaman dengan cara dikoak. Pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk kemudian ditutup kembali

Dosis pupuk :

UMUR
(bulan)
Dosis pupuk Makro (per ha)
Urea(kg) TSP(kg) MOP/ KCl (kg) Kieserite (MgSO4)(kg)
2 15 15 8 8
6 15 15 8 8
10 25 25 12 12
14 30 30 15 15
18 30 30 45 15
22 30 30 45 15
28 160 250 250 60
32 160 200 250 60
36 140 250 250 80
42 140 200 250 80

Hama dan penyakit.

- Ulat Kilan ( Hyposidea infixaria)

Menyerang pada umur 2-4 bulan. Serangan berat mengakibatkan daun muda tinggal urat daunnya saja

- Ulat Jaran / Kuda ( Dasychira inclusa)

Ada bulu-bulu gatal pada bagian dorsalnya menyerupai bentuk bulu (rambut) pada leher kuda, terdapat pada marke 4 dan 5 berwarna putih atau hitam, sedang ulatnya coklat atau coklat kehitam-hitaman.

Pengendalian dengan musuh alami predator Apanteles mendosa dan Carcelia spp

- Ulat Srengenge (Parasa lepida dan Ploneta diducta)

Serangan dilakukan silih berganti karena kedua species ini agak berbeda siklus hidup maupun cara meletakkan kokonnya, sehingga masa berkembangnya akan saling bergantian. Serangan tertinggi pada daun muda, kuncup yang merupakan pusat kehidupan dan bunga yang masih muda.

Siklus hidup Ploneta diducta 1 bulan, Parasa lepida lebih panjang dari pada Ploneta diducta

- Kutu (Pseudococcus lilacinus)

Kutu berwarna putih. Simbiosis dengan semut hitam.

Gejala serangan : infeksi pada pangkal buah di tempat yang terlindung, selanjutnya perusakan ke bagian buah yang masih kecil, buah terhambat dan akhirnya mengering lalu mati.

Pengendalian : tanaman terserang dipangkas lalu dibakar, dengan musuh alami predator; Scymus sp, Semut hitam, parasit Coccophagus pseudococci

- Helopeltis antonii

Menusukkan ovipositor untuk meletakkan telurnya ke dalam buah yang masih muda, jika tidak ada buah muda hama menyerang tunas dan pucuk daun muda. Serangga dewasa berwarna hitam, sedang dadanya merah, bagian menyerupai tanduk tampak lurus.

Ciri serangan, kulit buah ada bercak-bercak hitam dan kering, pertumbuhan buah terhambat, buah kaku dan sangat keras serta jelek bentuknya dan buah kecil kering lalu mati

- Ngengat Buah (Acrocercops cranerella)

Buah muda terserang hebat, warna kuning pucat, biji dalam buah tidak dapat mengembang dan lengket.

Pengendalian : sanitasi lingkungan kebun, menyelubungi buah coklat dengan kantong plastik yang bagian bawahnya tetap terbuka (kondomisasi), pelepasan musuh alami semut hitam dan jamur antagonis Beauveria bassiana ( BVR) dengan cara disemprotkan

- Jamur Upas (Upasia salmonicolor)

Menyerang batang dan cabang.

Pengendalian : kerok dan olesi batang atau cabang terserang dengan pestisida, pemangkasan teratur, serangan berlanjut dipotong lalu dibakar.

- Penyakit Busuk Buah (Phytopthora palmivora)

Gejala serangan dari ujung buah atau pangkal buah nampak kecoklatan pada buah yang telah besar dan buah kecil akan langsung mati.

Pengendalian : membuang buah terserang dan dibakar, pemangkasan teratur

  • Pemangkasan

-          Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik.

Ada beberapa macam pemangkasan, seperti :

a. Pangkas Bentuk

Dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer (jorquet) atau sampai umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris

b. Pangkas Pemeliharaan

Bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya

c. Pangkas Produksi

Bertujuan agar sinar dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga bunga dapat terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada pangkas berat pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau.

d. Pangkas Restorasi

Memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air atau dapat dilakukan dengan side budding

Panen buah kakao.

Pemanenan buah kakao dapat dilakukan apabila buah kakao benar-benar telah masak. Buah yang matang dapat dilihat bila sudah terjadi perubahan warna kulit buah, yang berwarna hijau menjadi kuning atau warna ungu menjadi warna merah. Pada umumnya pertumbuhan buah kakao mencapai 144 hari dan buah dapat dilakukan pemanenan sekitar umur 170 hari.

Beberapa syarat pemetikan buah dan pemecahan buah kakao :

  • Buah yang dipetik yang cukup masak (warna kuning atau merah)
  • Menggunakan pisau pengait yang tajam
  • Tidak merusak bantalan bunga dan buah sekitarnya
  • Mengasingkan buah yang terkena infeksi penyakit

Setelah buah yang dipanen dikumpulkan dan dilakukan sortir buah yang tepat dan baik. Buah yang masak dilakukan pemecahan dan buah yang setengah masak dilakukan pemeraman atau dibiarkan 1-2 hari agar proses fermentasi sempurna sehingga biji kakao yang dihasilkan bermutu baik. Pemecahan buah dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tajam, pisau bagian yang tumpul atau parang dan dapat digunakan juga pemukul dari kayu. Kemudian biji dikeluarkan dari plasentanya agar tidak terjadi kerusakan saat fermentasi dan jamur. Kemudian biji dikumpulkan dalam wadah.

Pengolahan hasil.

Ada beberapa proses pengolahan biji kakao kering, antara lain :

  1. Fermentasi
  2. Pencucian
  3. Pengeringan
  4. Sortasi
  5. Pengemasan
  6. Penyimpanan

Fermentasi.

Merupakan proses biokimia yang terjadi karena aktivitas mikroba yang menghasilkan enzim. Selama fermentasi, terjadi juga perubahan kimia baru seperti alkohol, ester organik, asam organik dan bahan cita rasa (flavor precussor).

Fermentasi ada 2 tahap :

  • Fermentasi luar / external fermentation

Pemecahan daging biji (pulp) oleh aktivitas mikro organism

  • Fermentasi dalam / internal fermentation

Perubahan bio kimia di dalam biji (kotyledon) sebagai lanjutan dari fermentasi luar

Selama proses, pulp mengandung bahan kimia gula, asam organik serta terjadi perubahan fisik, mikroflora dan biokimia kotyledon yang menghasilkan aroma biji dan bahan cita rasa

Jenis mikroflora

AFRIKA MALAYSIA
Yeasta
Hansenulla Hensenulla
Kloeckera Kloeckera
Torulopsis Saccaromyces Torulopsis
Candida Saccaromyces
Pichia Candida
Schzosaccharomyces Hanseniospora
Rhodotorula
Debaryoomyces
Acetic acid bacteria
Acetobacter rances Acetobacter rances
A. xylinum B. xylinum
Gluconobacter oxydans Gluconobacter oxydans
A. ascendens
Lactic acid bacteria
Lactobacillus collinoides Lactobacillus collinoides
L. plantarum L. plantarum
L. fermentum
L. mali
Bacillus spp
Bacillus cereus Bacillus cereus
B. subtilis B. subtilis
B. licheniformis B. licheniformis
B. coagulans

Fungsi fermentasi :

  1. Melepaskan lapisan lender
  2. Mematikan biji kakao
  3. Membentuk bahan pelopor cita rasa (flavor precusser)
  4. Memudahkan proses pengeringan biji kakao
  5. Mencegah pemecahan lemak kakao (cacao butter)

Sistem fermentasi.

Proses ini dapat dilakukan secara tradisional maupun modern. Secara tradisional sudah dilakukan di Afrika. Biji fermentasi di dalam tanah dan di tutup dengan daun pisang selama 3-4 hari untuk kakao mulia dan 1 minggu untuk kakao lindak.

Beberapa cara fermentasi biji kakao :

  • Biji ditumpuk (Heap Fermentation)

Biji ditumpuk di atas tanah yang telah dialasi dengan daun pisang kemudian ditutup dengan daun pisang

  • Fermentasi dalam keranjang (Basket Fermentation)

Biji dimasukkan ke dalam wadah keranjang yang terbuat dari rotan. Dan ditutup dengan daun pisang atau karung goni

  • Fermentasi dalam kotak (Box Fermentation)

Biji dimasukkan ke dalam kotak yang terbuat dari kayu dengan berbagai ukuran yang dilengkapi dengan system drainase

Selama biji kakao difermentasikan, dilakukan pembalikan (turning) atau pengadukan selama 2 hari sekali agar biji kakao terfermentasi sempurna.

Tabel waktu fermentasi yang berlaku di beberapa negara penghasil cokelat

Negara Jenis kakao Waktu (hari) Ket.
Ecuador Criollo 1,5 Singkat
Ceylon Trinitario 1,5
Venezuela Forastero 2,0
Criollo 2,0
Zanzibar Criollo 6,0 Sedang
Venezuela Forastero 5,0
Trinidad Trinitario 6,0 – 8,0
Ghana Forastero 6,0
Granada Trinitario 8,0 – 10,0 Panjang
Congo Criollo / Forastero 7,0 – 10,0

Waktu fermentasi tergantung dari jenis kakao, teknik fermentasi dan lingkungan. Dan untuk mengetahui akhir waktu fermentasi adalah sebagai berikut :

  1. Biji kakao agak kering dan lembek, berwarna coklat kemerahan dan agak membengkak
  2. Terdapat pertumbuhan jamur berwarna putih di permukaan kulit biji
  3. Bau aroma cuka berkurang
  4. Suhu pada tumpukan biji turun
  5. Biji mengeluarkan cairan berwarna ungu kemerahan bila dilakukan pemicitan
  6. Jika dibelah, dua permukaan belahan berwarna ungu pucat yang dikelilingi warna coklat di tepi

Perendaman dan pencucian.

Tujuan :

  1. Untuk melepaskan pulp
  2. Menghentikan proses fermentasi yang tersisa
  3. Biji menjadi tahan terhadap serangan jamur dan hama selama disimpan
  4. Persentase biji bulat lebih besar
  5. Bentuk biji menjadi lebih menarik

Secara sederhana, biji dimasukkan ke dalam keranjang rotan dan direndam dengan air mengalir selama ± 2 jam, kemudian dicuci dengan tangan. Secara modern, dapat dilakukan dengan mesin cuci berputar.

Saran :  Agar  tidak  dilakukan  pencucian  supaya  berat  kering  biji  tidak  berkurang  sampai 4,5 % dan

Kekuatan  kulit  biji  menjadi  rendah  sehingga  biji  kakao  akan  pecah  selama  proses  pengeringan.

Pengeringan.

Pada fermentasi, diperkirakan KA biji berkurang 60%. KA ini harus diturunkan sampai 7%. Pada pengeringan secara tradisional, biji kakao dihampar di lantai dengan tebal hamparan 1-2 biji di bawah sinar matahari. Selama pengeringan dilakukan pembalikan sekali tiap 2 jam agar pengeringan merata dan sempurna. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan alat pengeringan buatan (artificial drying) dengan menggunakan aliran udara panas. Pada perkebunan menggunakan alat pengeringan tipe besar seperti Samoa Dryer. Pengeringan dengan alat buatan dianjurkan karena musim panas buah kakao sering serentak dengan musim hujan.

Tujuan :

  1. Menghentikan proses fermentasi yang tersisa agar tidak terjadi fermentasi yang berlebihan
  2. Menurunkan KA (kadar air)
  3. Memberikan perubahan warna biji menjadi pirang atau coklat
  4. Mengurangi rasa pahit
  5. Mempertahankan kandungan bahan cita rasa (flavor precussor)
  6. Mempertahankan daya tahan dan daya simpan

Penjemuran

Caranya :

  • Biji kakao ditebar tipis (1-2 lapisan biji) di atas lantai semen / tikar bambu / tikar rotan / tikar plastik, kemudian dijemur
  • Dilakukan pembalikan sekali tiap 2 jam
  • Biji dijemur selama 4-7 hari (tergantung cuaca)
  • Bila hujan dan waktu malam, biji kakao digulung dengan tikar dan disimpan di dalam rumah atau ruang penyimpanan
  • Pada umumnya, metode ini menghasilkan mutu yang baik

Pengeringan buatan (artificial drying)

Teknik pengeringan Samoa / Samoa drying menggunakan prinsip aliran udara panas dan waktu yang dibutuhkan 2-3 hari.

Alat berbentuk kotak dengan ukuran bervariasi. Lantai pengeringan terbuat dari lempengan besi atau aluminium yang berlobang. Bahan bakar yang digunakan adalah kayu api atau minyak tanah.

Alat berbentuk bulat dengan ukuran bervariasi dibuat dari lempengan besi berdiameter 9 meter dan dan dilengkapi alat pengaduk otomatis. Kapasitas maksimum ± 5 ton.

Penggunaan suhu 70oC dan lama pengeringan 18-20 jam. Dengan cara ini, mutu yang dihasilkan baik.

Tanda visual untuk mengetahui biji sudah cukup kering :

  1. Warna biji kakao bagian dalam berwarna coklat penuh dengan rasa pahit
  2. Kulit biji tidak pecah atau rapuh
  3. Tidak mempunyai rasa asam dan bau asap
  4. KA 7%

Untuk kualitas baik, hal-hal yang harus dihindari :

  1. Tempat atau lantai pengeringan harus bersih
  2. Hindari pencemaran asap jika menggunakan pengeringan buatan
  3. Hindarkan pengeringan bersama dengan hasil-hasil pertanian lainnya
  4. Suhu pengeringan jangan > 80oC

Pengukuran % KA.

Dapat dilakukan dengan memperhitungkan berat biji.

Kadar Air = [(Wo – W1) / Wo]x 100%

Wo = Berat awal biji kakao

W1 = Berat akhir biji kakao

Pengukuran KA juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat kelembaban meter (Moisture meter).

Sortasi dan pengawasan mutu.

Setelah dikeringkan, biji disortasi untuk menentukan tingkat mutunya. Sortasi bisa dilakukan secara visual berdasarkan besar ukuran biji, bulat atau gepeng, pecah, biji berkecambah atau berjamur, warna dan aroma. Atau juga secara mekanis tergantung jumlah produksinya.

Spesifikasi teknis berdasarkan uji laboratorium :

  • pH > 5
  • Berat rata-rata 1 gram
  • KA max 7,5%
  • KL (kadar lemak) ≥ 50%
  • FI (Index Fermentasi) > 1
  • % biji berjamur
  • % biji berkecambah
  • % biji berserangga
  • % biji pecah

Penyimpanan (storage).

Dilakukan pengemasan setelah melalui proses sortasi. Pengemasan menggunakan karung goni yang baru atau bersih dan dijahit rapi dan kuat serta dilapisi kantong plastik. Hal ini dilakukan untuk menghindari hama dan penyakit.

Cara penyimpanan :

  1. Goni disusun di atas lantai semen dengan papan kayu dengan ketinggian 7 cm dari permukaan lantai dan terpisah dari dinding gudang sejauh 60 cm agar sirkulasi udara berjalan dengan baik
  2. Hindari penyimpanan bersamaan dengan penyimpanan hasil pertanian lainnya.
  3. Gedung harus berwarna putih dan cerah guna mengatasi perubahan suhu dan kelembaban udara (RH) <  80%
  4. Tidak dianjurkan membuka pintu gudang pada pagi hari guna menghindari perubahan kelembaban udara dalam gudang

Budi Daya Tanaman Jeruk

Wikipedia.

Klasifikasi ilmiah :

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Upakelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Rutaceae
Upafamili: Aurantioideae
Bangsa: Citreae
Genus: Citrus L.

Jeruk atau limau adalah semua tumbuhan berbunga anggota marga Citrus suku Rutaceae (suku jeruk-jerukan). Anggotanya berbentuk pohonbuah yang berdaging dengan rasa masam yang segar, meskipun banyak di antara anggotanya yang memiliki rasa manis. Rasa masam berasal dari kandungan asam sitrat yang memang menjadi terkandung pada semua anggotanya. dari dengan

Sebutan “jeruk” kadang-kadang juga disematkan pada beberapa anggota marga lain yang masih berkerabat dalam suku yang sama, seperti kingkit. Dalam bahasa sehari-hari, penyebutan “jeruk” atau “limau” di Sumatra dan Malaysia seringkali berarti “jeruk keprok” atau “jeruk manis”. Di Jawa, “limau” atau “limo” berarti “jeruk nipis”.

Jeruk sangatlah beragam dan beberapa spesies dapat saling bersilangan dan menghasilkan hibrida antarspesies (‘interspecific hybrid) yang memiliki karakter yang khas, yang berbeda dari spesies tetuanya. Keanekaragaman ini seringkali menyulitkan klasifikasi, penamaan dan pengenalan terhadap anggota-anggotanya, karena orang baru dapat melihat perbedaan setelah bunga atau buahnya muncul. Akibatnya tidak diketahui dengan jelas berapa banyak jenisnya. Penelitian-penelitian terakhir menunjukkan adalah keterkaitan kuat Citrus dengan genus Fortunella (kumkuat), Poncirus, serta Microcitrus dan Eremocitrus, sehingga ada kemungkinan dilakukan penggabungan. Citrus sendiri memiliki dua anakmarga (subgenus), yaitu Citrus dan Papeda.

Asal jeruk adalah dari Asia Timur dan Asia Tenggara, membentuk sebuah busur yang membentang dari Jepang terus ke selatan hingga kemudian membelok ke barat ke arah India bagian timur. Jeruk manis dan sitrunAsia Timur, sedangkan jeruk bali, jeruk nipis dan jeruk purut berasal dari Asia Tenggara. (lemon) berasal dari

Banyak anggota jeruk yang dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan pangan, wewangian, maupun industri. Buah jeruk adalah sumber vitamin C dan wewangian / parfum penting. Daunnya juga digunakan sebagai rempah-rempah.

Pohon kecil, perdu atau semak besar, ketinggian 2-15 m, dengan batang atau ranting berduri panjang tetapi tidak rapat. Daun hijau abadi dengan tepi rata, tunggal, permukaan biasanya licin dan agak berminyak. Bunga tunggal atau dalam kelompok, lima mahkota bunga (kadang-kadang empat) berwarna putih atau kuning pucat, Stamen banyak, seringkali sangat harum. Buah hesperidium), semacam buah buni, membulat atau seperti tabung, ukuran bervariasi dengan diameter 2-30 cm tergantung jenisnya; kulit buah biasanya berdaging dengan minyak atsiri yang banyak. bertipe “buah jeruk”

Buah dan daunnya dimanfaatkan orang sebagai penyedap atau komponen kue / puding. Aroma yang khas berasal dari sejumlah flavonoid dan beberapa terpenoid. Daging buah mengandung banyak asam sitrat atau asam jeruk yang memberikan rasa masam yang tajam tetapi segar.

Spesies dan Hibrida :

Citrus Aurantifolia – Jeruk Nipis

Citrus Maxima – Jeruk Pamelo

Citrus Medica – Jeruk Sukade

Citrus Reticulata – Jeruk Keprok

Citrus Aurantium – Bitter Orange

Citrus Hystrix – Jeruk Purut

Citrus Latifolia – Persian Lime

Citrus Limon – Jeruk Lemon

Citrus Limonia – Rangpur

Citrus Paradisi – Grape Fruit

Citrus Sinensis - Jeruk Manis

Syarat tumbuh.

Jeruk mempunyai syarat tumbuh seperti :

  1. Perlu 6-9 bulan basah (musim hujan)
  2. Curah hujan 1000-2000 mm/thn dan merata
  3. Pada bulan Juli-Agustus memerlukan air yang cukup
  4. Suhu  25oC – 30oC
  5. Kelembaban (RH) 70% – 80%
  6. Kecepatan angin max 40%
  7. Ketinggian optimum 1-1200 meter d.p.l
  8. Jenis tanah Latosol dan Andosol
  9. pH 5,5 – 6,5
  10. Air tanah 100-200 cm di bawah permukaan tanah, kemarau 150 cm dan hujan 50 cm
  11. Kadar garam air max 10%

Pembibitan.

Vegetatif :

  • Metode dengan cara penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel.
  • Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (understam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda.
  • Varietas batang bawah yang biasa digunakan adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange.
  • Dilakukan penyambungan tunas pucuk atau penempelan mata tempel

Generatif :

  • Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang
  • Tanah persemaian diolah sedalam 30-40 cm dan dibuat petakan berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan
  • Jarak petakan 0,5-1m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2
  • Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm
  • Persemaian diberi atap
  • Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan
  • Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1)

Media tanam.

Jarak tanam :

  1. Keprok dan Siem        : jarak tanam 5 x 5 m
  2. Manis                              : jarak tanam 7 x 7 m
  3. Sitrun (Citroen)          : jarak tanam 6 x 7 m
  4. Nipis                                : jarak tanam 4 x 4 m
  5. Grape fruit                     : jarak tanam 8 x 8 m
  6. Besar                                : jarak tanam 10 x 10 m atau 12 x 12 m

Lubang tanam dibuat 2 minggu sebelum penanaman. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas. Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 1-2 kg pupuk kandang.

Penanaman.

Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan.

Sebelum ditanam, perlu dilakukan :

  • Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan
  • Pengurangan akar
  • Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.

Setelah bibit ditanam, diberikan mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitar bibit. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan / sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput / tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.

Pemeliharaan.

Bagi tanaman yang tidak tumbuh, dilakukan penyulaman. Pada saat pemupukan, sekitar tanaman harus dibersihkan dari gulma. Diperhatikan tanah disekitar tanaman, jika ada yang tererosi karena kemiringan lahan, segera tambahkan tanah. Perlu dilakukan pemangkasan terhadap cabang tanaman yang sakit, kering atau tidak produktif. Bekas luka pemangkasan ditutup dengan lilin atau fungisida guna mencegah penyakit masuk melalui bekas tersebut.

Tanaman disiram minimal sekali setiap minggu pada musim kemarau. Dan apabila ketersediaan air terbatas, tanah digemburkan dan ditutup dengan mulsa.Pada saat pohon berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan buah guna menghasilkan buah berbobot dan berkualitas. Dalam satu tangkai sisakan 2-3 buah saja. Dan buah yang sakit maupun tertutupi daun, diambil atau dibuang.

Dosis pupuk.

Umur
(tahun)
Dosis Pupuk Makro (gr/pohon)
Urea TSP KCl
1 80 170 170
2 160 325 250
3 250 500 325
4 325 170 425
5 400 210 500
6 500 250 600
7 600 300 700
8 700 325 780
9 780 390 850
10 850 425 900

Hama.

  • Kutu loncat (Diaphorina citri).

Menyerang bagian tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.

Akibat yang ditimbulkan adalah tunas keriting, tanaman mati.

Pengendalian dengan membuang bagian yang terserang.

  • Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii).

Menyerang bagian tunas muda dan bunga.

Akibat yang ditimbulkan adalah daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.

  • Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella).

Menyerang bagian daun muda.

Akibat yang ditimbulkan adalah alur melingkar transparan atau keperakan, tunas /daun muda mengkerut, menggulung, rontok.

Pengendalian dengan memetik daun dan dibenamkan dalam tanah.

  • Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp).

Menyerang bagian tangkai, daun dan buah.

Akibat yang ditimbulkan adalah bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.

  • Penggerek buah (Citripestis sagittiferella).

Menyerang bagian buah.

Akibat yang ditimbulkan adalah lubang gerekan buah keluar getah.

Pengendalian dengan memetik buah yang terinfeksi.

  • Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii).

Menyerang bagian tunas, daun muda dan pentil.

Akibat yang ditimbulkan adalah bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis.

  • Thrips (Scirtotfrips citri).

Menyerang bagian tangkai dan daun muda.

Akibat yang ditimbulkan adalah helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis.

Pengendalian dengan menjaga tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami.

  • Kutu dompolon (Planococcus citri).

Menyerang bagian tangkai buah.

Akibat yang ditimbulkan adalah berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur. Pengendalian dengan mencegah datangnya semut sebagai pembawa kutu.

  • Lalat buah (Dacus sp).

Menyerang bagian buah yang hampir masak.

Akibat yang ditimbulkan adalah lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.

Pengendalian dengan memasang perangkap lalat buah.

Penyakit.

  • CVPD

Penyebab : Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri.

Bagian yang diserang : silinder pusat (phloem) batang.

Gejala : daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.

Pengendalian : gunakan bibit tanaman bebas CVPD.

Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD.

  • Blendok

Penyebab : jamur Diplodia natalensis.

Bagian diserang : batang atau cabang.

Gejala : kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.

Pengendalian : pemotongan cabang terinfeksi.

  • Embun tepung

Penyebab : jamur Oidium tingitanium.

Bagian diserang : daun dan tangkai muda.

Gejala : tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.

  • Kudis

Penyebab : jamur Sphaceloma fawcetti.

Bagian diserang : daun, tangkai atau buah.

Gejala : bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye. Pengendalian : pemangkasan teratur.

  • Busuk buah

Penyebab:  Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae.

Bagian diserang : buah.

Gejala : terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.

Pengendalian : hindari kerusakan mekanis.

  • Busuk akar dan pangkal batang

Penyebab : jamur Phyrophthora nicotianae.

Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung.

Gejala : tunas tidak segar, tanaman kering.

Pengendalian : pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah.

  • Buah gugur prematur

Penyebab : jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp.

Bagian yang diserang:  buah dan bunga.

Gejala : dua-empat minggu sebelum panen buah gugur.

  • Jamur upas

Penyebab : Upasia salmonicolor.

Bagian diserang : batang.

Gejala : retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.

Pengendalian : kulit yang terinfeksi dikelupas dan diolesi fungisida yang mengandung tembaga atau belerang, kemudian potong cabang yang terinfeksi.

Panen.

Buah jeruk dipanen saat masak optimal berumur + 28-36 minggu, tergantung jenis/varietasnya. Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.

KOMPOS

Karena kebutuhan manusia terus bertambah maka sampah yang dihasilkan juga bertambah. Karena sampah semakin banyak, maka timbul kesulitan untuk mengelola sampah terutama bagi pengelola kebersihan di kota yang berakibat banyaknya sampah yang tidak tertangani dengan baik dan terbuang di banyak tempat.

Seperti di tempat saya di Medan, di setiap jalanan kota pasti terlihat sampah plastik, kertas, rokok, dll. Mengapa hal itu terjadi? Semua karena ketidak-tahuan masyarakat atas sampah bahkan ketidak-pedulian masyarakat atas sampah oleh karena faktor kemalasan dan dampak kriminalitas lainnya seperti pencurian tong sampah.

Pengolahan sampah yang tidak baik menimbulkan berbagai masalah, seperti pencemaran lahan kosong, sungai /air, banjir, pencemaran gas dan lindi di TPA. Jika TPA sudah penuh, apa yang terjadi? Tentu akan dibuka TPA yang baru yang berdampak apa? Estetika lingkungan menjadi buruk, pemanasan global (Global Warming), perkembangan kecoa, lalat, tikus, dan berbagai penyakit yang berujung terganggunya ekosistem dan terancamnya kehidupan semua makhluk hidup.

Apa anda mau di sebelah kamar anda ada TPA oleh karena ketidak-tahuan bahkan ketidak-pedulian anda?

Agar tidak menimbulkan penyakit dan tidak mengganggu lingkungan, sampah harus dikelola dengan baik dengan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) atau (Pemanfaatan kembali, Pengurangan, Pendaur-ulangan).

Pengelolaan sampah:

Tempatkan sampah organik (sayur, buah, makanan, daun yang bisa diubah menjadi kompos), sampah plastik, sampah kertas, sampah an-organik yang tidak bisa didaur-ulang secara terpisah. Jika ada makanan hasil laut, harus dimasak / direbus terlebih dahulu sebelum dibuang.

Kompos.

Kompos adalah jasad renik yang mampu mengurai sampah organic menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan bisa mmberi pangan kembali bagi tanaman. Kompos mengandung unsure hara mikro yang berguna untuk menyehatkan tanaman.

Kompos terbagi dua : kompos curah dan kompos kemasan. Kompos yang dihasilkan dari sampah memiliki fungsi lingkungan yang sangat baik.

Ciri kompos yang baik itu berwarna coklat kehitaman dan berbau seperti tanah subur atau humus. Jika kita bisa membuat kompos sendiri, berarti kita mengurangi bahkan menghentikan penjualan tanah humus yang berasal dari hutan. Yang juga berarti kita mengurangi erosi dan banjir dan menjaga hutan dan tanah sebagai resapan air.

Manfaat.

  1. Bahan tepat untuk reklamasi lahan bekas pertambangan
  2. Mendukung penghijauan lingkungan
  3. Mengembalikan mutu dan kegemburan tanah
  4. Sebagai media pertumbuhan plankton pada lapisan dasar tambak
  5. Mengurangi beban pengelolaan sampah di kota

Pembuatan kompos bisa dilakukan dimana saja, seperti di rumah, lingkungan, dan skala kota.

Pengomposan di perumahan.

*dengan lahan sederhana

Membuat kompos di rumah tidak sulit, cara yang paling sederhana adalah dengan gali urug. Cara ini dapat dilakukan bila tersedia lahan kosong (halaman) sehingga tidak mengganggu tetangga.

  1. Gali tanah sedalam 50-100 cm ( jaga jarak dari sumur sejauh 10 meter jika ada sumur / sumber air)
  2. Isi lubang dengan sampah organik yang sudah terpisah dari sampah an-organik
  3. Taburi sampah dengan tanah secara berkala untuk mengurangi bau
  4. Tutup lubang bila sudah penuh dengan sampah organik (lubang dapat digali ulang dan dipakai kembali sekitar 3 bulan)
  5. Digali kembali dan diangin-anginkan

*dengan lahan terbatas (luas tanah min 1m2)

a.    Sediakan drum / container dengan ukuran bervariasi (drum 150 liter bisa dipakai sekitar 2 tahun untuk keluarga dengan 5 orang)

b.    Lubangi drum di bagian dasar untuk rembesan

c.    Tanam sekitar 10 cm dari permukaan tanah

d.    Sampah organik dimasukkan tiap hari ke dalam wadah

e.    Taburi dengan sedikit tanah /serbuk gergaji / kapur (bila ada)

f.     Tambahkan kotoran binatang (bila ada dapat meningkatkan kualitas kompos)

g.    Setelah penuh ditaburi tanah lagi, diamkan selama 3 bulan

h.    Keluarkan isinya dengan menggunakan sekop, lalu diangin-anginkan selama 2 minggu

*dengan lahan terbatas (tidak ada lahan tanah)

a.    Sediakan pot tanaman / kaleng bekas cat, biscuit /  wadah lain

b.    Lubangi bagian dasar dan letakkan di atas wadah berbentuk piring untuk menampung rembesan

c.    Masukkan sampah organik (sisa makanan) setiap hari ke dalam wadah

d.    Taburi sedikit tanah /  serbuk gergaji / kapur (bila ada)

e.    Tambahkan kotoran binatang (bila ada dapat meningkatkan kualitas kompos)

f.     Setelah penuh ditaburi dengan tanah dan didiamkan selama 2 bulan sebelum diisi tanaman

Pengomposan di sekolah.

  1. Sampah organik makanan sebagai wadah kompos dengan drum / wadah plastik
  2. Sampah organik daun / rumput sebagai bahan kompos dengan cara gali urug
  3. Sampah non-organik dikumpulkan untuk didaur-ulang
  4. Kebun percobaan dapat dilakukan untuk memberikan gambaran nyata tentang manfaat kompos bagi tanaman (bila ada)

Pengomposan di kantor.

  1. Sampah daun dikomposkan dengan gali urug atau bak kompos
  2. Sampah makanan dikomposkan dengan drum / wadah plastik
  3. Sampah plastik, kertas, dll dikumpulkan untuk didaur-ulang

Pengomposan skala lingkungan.

  1. Pemupukan
  2. Pembalikan
  3. Penyiraman
  4. Pematangan (dijemur di bawah sinar matahari tapi dijaga tetap lembab)
  5. Pengayakan
  6. Pengemasan
  7. Penyimpanan (ruangan bersirkulasi udara yang baik)

Masalah dan pemecahannya.

*Kompos yang bau busuk dan banyak lalat

Kompos akan bau jika terlalu basah atau tidak cukup udara. Mungkin juga karena terlalu banyak menaruh sisa makanan dan beberapa sampah lain yang basah

Solusi :

  • Tambahkan 2 atau 3 genggam penuh kapur. Aduk kompos untuk mendapatkan udara lebih di dalam tumpukan
  • Mencampur makanan atau potongan rumput dengan serbuk gergaji atau surat kabar sebelum menambah tumpukan tersebut

*tumpukan menjadi sarang tikus, kecoa, semut, belatung

Solusi :

  • Tutup sisa makanan dengan lapisan dari surat kabar, jerami atau taburan tanah
  • Tambahkan kapur dan aduk tumpukan untul mengusir semut dan kecoa
  • Pasang kawat jarring di bawah bak untuk mencegah tikus masuk
  • Jangan menaruh susu, tulang dan makanan hasil laut ke dalam kompos

Question.

*Cara mengetahui kompos sudah siap digunakan?

Warnanya sudah gelap dan mudah hancur / rapuh, baunya seperti tanah subur / humus dan sudah tidak bisa terlihat lagi gumpalan dari makanan atau sisa lainnya.

*Berapa lama kompos akan siap digunakan?

Biarkan tumpukan bahan kompos selama 2 minggu pertama. Setelah itu, aduk tumpukan kompos tersebut setiap minggu selama 8-10  minggu untuk menghasilkan kompos yang baik. Jika memutar tumpukan kompos tidak secara teratur, akan mengakibatkan waktu yang lebih lama untuk menghasilkan kompos yang baik.

*Mana yang lebih baik, kompos di bawah sinar matahari atau di tempat teduh?

Panas matahari akan mempercepat proses, tetapi ingat panas juga akan mengeringkannya, jadi  harus dijaga selalu lembab.

*Dapatkah tulang atau sisa daging dikomposkan?

Tidak, memasukkan tulang dan daging ke dalam kompos akan dapat menarik lalat, kucing dan tikus.

*Apakah bisa membuat kompos dengan cara menumpuk segala sesuatu dan kemudian mengabaikannya?

Bisa, akan tetapi memerlukan waktu yang sangat lama. Dan harus perlu dibolak-balikan agar ada udara yang mengalir.

*Cara mengeluarkan kompos dari tumpukan apabila sudah matang?

Ambil kompos yang sudah matang dari dasar tumpukan.

*Bagaimana mengetahui kapan harus memutar tumpukan?

Memutar setiap 1-2 minggu akan mempercepat proses. Jika tidak dalam keadaan tergesa-gesa, 1 kali sebulan memungkinkan untuk dilakukan.

GO GREEN TO SAVE OUR EARTH, OUR FUTURE FOR OUR CHILDREN :)

Sumber : Booklet “Ayo Buat Kompos” (KLH – JICA)

Budi Daya Tanaman Jarak

Tanaman jarak merupakan tanaman yang hanya memerlukan teknik budidaya sederhana dan dapat hidup pada tanah yang relative kurang subur, terutama di tanah yang berstruktur ringan dimana tanaman pangan kurang berkembang.

Guna meningkatkan produksi jarak per satuan luas, maka penerapan paket teknologi secara utuh dan peran aktif serta petani maupun kelompoknya perlu mendapatkan perhatian utama.

Paket teknologi yang dianjurkan kepada petani / kelompok tani dalam intensifikasi usaha tani jarak meliputi :

  1. Pemakai  bibit unggul
  2. Penggarapan tanah sesuai baku teknis yang diterbitkan
  3. Penanaman tepat waktu
  4. Pemupukan yang tepat dalam 5 hal : jenis, jumlah, waktu, cara dan tempat
  5. Perlindungan tanaman dari gulma, hama dan penyakit lain yang merugikan
  6. Pengairan yang cukup / sesuai kebutuhan
  7. Pemungutan / pengolahan hasil yang baik dan tepat

Syarat tumbuh.

Agar tanaman jarak dapat memberikan hasil yang optimal, faktor-faktor tumbuh harus diketahui, seperti:

  • Daerah penyebaran

Penyebaran tanaman jarak terletak antara 30o LS sampai 52o LU. Tinggi tempat yang optimal adalah 300-800 meter d.p.l.

  • Suhu

Diperlukan iklim yang kering dan panas terutama pada saat berbuah. Suhu rendah pada waktu tanam dan pembungaan bisa sangat merugikan karena akan tumbuh jamur. Sebaliknya pada suhu tinggi (>38oC) pada saat pembungaan bisa membuat bunga menjadi kering. Suhu tumbuh yang baik bagi tanaman jarak adalah 20oC – 26oC.

  • Kelembaban

Kelembaban yang tinggi dapat memicu perkembangan jamur dan cendawan.

  • Lama penyinaran

Tanaman jarak tergolong tanaman hari panjang yaitu memerlukan sinar matahari langsung secara terus menerus sepanjang hari, sehingga tanaman jarak tidak boleh terlindung tanaman lainnya yang akan menghambat pertumbuhannya.

  • Curah hujan

Intensitas hujan, hari hujan per bulan, dan panjang bulan basah merupakan faktor utama yang mempengaruhi tanaman jarak. Faktor-faktor ini bisa mengakibatkan timbulnya cendawan dan bakteri, baik pada bagian atas maupun di dalam tanah. Curah hujan yang optimal 700-1200 mm per tahun yang tersebar selama 4-6 bulan pada saat tanam.

  • Tanah

Tidak diperlukan tanah subur tetapi lebih sesuai bila strktur tanahnya ringan, tanah yang baik bagi tumbuhnya jarak adalah tanah lempung berpasir dengan pH 5 – 6,5. Tanaman jarak sangat peka terhadap genangan air, oleh karena itu diperlukan drainase yang baik.

Pemilihan lokasi.

Sebagai pertimbangan pertama dalam pemilihan lokasi adalah jenis tanah, utamanya struktur tanah. Struktur tanah lempung berpasir adalah yang paling baik dan drainase harus baik. Tanah yang ditanami jarak harus bebas naungan agar mendapat penyinaran matahari penuh. Disamping itu juga, iklim kering terutama bulan kering selama lebih dari 3 bulan untuk mendapatkan produksi yang tinggi.

Sebagai indikator adalah tanaman kapas, apabila di lokasi tersebut tanaman kapas dapat tumbuh dengan baik berarti tanaman jarak pun akan tumbuh dengan baik karena persyaratan tumbuh dan iklim yang diperlukan hampir sama.

Teknik penanaman.

  • Pengolahan tanah

Karena sistem perakarannya banyak, diperlukan pengolahan tanah yang dalam supaya perakaran dapat mencapai persediaan air di dalam tanah pada waktu musim kering. Diperlukan pembajakan guna membasmi gulma dan memutuskan akar-akar, agar volume perakaran lebih sempurna sehingga mampu bertahan dalam musim kemarau.

  • Saluran drainase

Drainase diperlukan untuk menghindari genangan air.

  • Jarak tanah

Sistem monokultur : 2 x 1 meter populasi / Ha 5000 batang

Sistem tumpang sari : 3 x 3 meter populasi / ha 1.100 batang atau 4 x 2 meter populasi / Ha 1.250 batang

Tumpang sari sebaiknya dengan kacang hijau, kedelai, kacang tanah atau jagung.

Anjuran : Penanaman dengan tumpang sari hasilnya lebih baik dan berlipat ganda.

  • Penanaman

Cara menanam biji jarak sama dengan palawija lainnya yaitu menggunakan tugal. Sebelum ditanam, biji dicelupkan terlebih dahulu pada insektisida guna menghindari serangan hama pada awal pertumbuhan. Tanah dilubang sedalam ±3 cm, masukkan benih 1-2 butir kemudia tutup dengan tanah. Saat yang paling tepat diakhir musim penghujan diharapkan saat pertumbuhan mendapat siraman hujan ±1,5 bulan dan waktu pembuangan jatuh pada musim kemarau.

  • Penyulaman

Dilakukan setelah umur ±1 minggu agar pertumbuhan dapat seragam.

  • Penjarangan

Dilakukan pada umur ±2 minggu dengan meninggalkan pohon yang paling baik perrtumbuhannya.

  • Kebutuhan benih

Sistem monokultur : 3 kg / Ha

Sistem tumpang sari : 1 kg / Ha

Pemeliharaan.

  • Penyiangan

Dilakukan pada umur ±1 bulan dan diulang menurut keadaan.

  • Pembubunan

Dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan pengairan bila perlu serta pembuatan drainase.

  • Pemupukan

Pemupukan dapat diberikan dua kali yaitu pada saat tanam dan setelah tanaman berumur 3-4 minggu. Dipakai sistem gara berimbang (NPK) dosis pemakaian per Ha 200 kg urea 100 kg TSP, 50 kg KCL

Harus dilakukan 5 hal dengan tepat:

  • Jenis, urea, TSP, KCL
  1. Jumlah
  2. Waktu
  3. Cara : Dilubang sedalam 5-7 cm
  4. Tempat : Kiri kanan pohon ±5-10 cm ( kemudian ditutup tanah)

No

Urea

TSP

KCL

Waktu

1

20 gr/btg

20 gr/btg

10 gr/btg

Saat tanam

2

20 gr/ btg

-

-

3-4 minggu setelah tan

  • Pemangkasan

Bertujuan untuk memperoleh cabang banyak sehingga produksi bertambah, dilakukan saat ketinggian ±30 cm atau  1 bulan sesudah tanam, sebelum pemupukan kedua dilakukan, dipangkas picuknya dengan 2 daun dibawahnya.

  • Pengamatan hama

Perlu dilakukan sedini mungkin ±umur 20 hari secara berkala terhadap hama Ulat srengenge (Prodenia sp), Ulat kilan (Achea sp), Telur (Heliothis sp), Keplik (Helopelthis sp)

Jenis hama.

Prodenia Lituria

Warna coklat hitam, menyerang pada malam hari, siang hari berteduh disela-sela gumpalan tanah. Telur menetas 3-5 hari, larva berkelompok memakan daun dari sebelah bawah, setelah beberapa hari larva berpencar. Gejala serangan : daun berlubang-lubang. Akibat serangan : Daun tidak berasimilasi, produksi menurun.

Achea janata

Telur terdapat pada permukaan daun bawah, menjadi kupu-kupu 1 bulan. Larva memakan dau dengan merusak lapisan kulkuta dan akhirnya memakan seluruh daun serta buah muda.

Heliothis Assulta

Telur menetas umur 2-8 hari, berkelompok memakan daun telur berada di permukaan daun berwarna putih. Menjadi kepompong dalam tanah, menjadi kupu-kupu setelah 2 minggu. Larva akan merusak pucuk, bunga dan buah muda. Stadium 2-3 minggu.

Helopelthis Antoni

Nimpe dan Imago merusak daun dengan menusuk jaringan dan menghisap cairan selnya, daun menjadi berkerut berwarna kuning dan berakibat daun tidak berasimilasi sehingga produksi menurun.

Cara penanggulangan hama.

Preventif

Benih dicelupkan insektisida dan fungisida

Mekanis

Ulat dan telurnya diambil dan dibinasakan

Kultur teknis

Pergiliran tanaman

Sanitasi

Kebersihan lingkungan tanaman

Biologi

Musuh alami seperti buruh pemakan ulat

Kimiawi

Penggunaan diazenon GDEC, thodan 35EC, sevin 855, nogos.

Pemungutan dan pengolahan hasil.

Setiap tandan, buah masaknya tidak serentak. Sebagai patokan bisa dipanen apabila buah sudah kering 60-70% atau buah kering lebih banyak dari buah yang masih hijau. Dilakukan dengan cara memotong tandan dengan pisau atau gunting yang tajam agar tidak merusak pohon atau cabang lainnya. Tandan-tandan tersebut lalu dijemur dengan dibolak-balik dan buah akan pecah, biji akan terlepas sendiri setelah 2-3 hari. Biji dan buah dipisahkan dengan cara ditampi kemudian biji dijemur lagi hingga kering untuk disimpan atau diperjual-belikan.

Standar mutu.

Kadar minyak                       Min     45%

Kadar air                                 Max      6%

Kadar kotoran                      Max      2%

Biji rusak                                 Max      3%

*Kemasan harus tertutup rapat di dalam karung.

Deskripsi jenis jarak.

Jenis

Genjah

Tengahan

Dalam

Umur panen

:

3,5 bulan

4 bulan

6 bulan

Tinggi tanaman

:

2-3 meter

2-2,5 meter

2-4 meter

Bentuk / warna

:

oval / coklat muda

oval / coklat tua

oval / coklat bintik-bintik

Hitam bintik-bintik putih

Mulai berbunga

:

2,5 bulan

2-2,5 bulan

3,5-4 bulan

Rata-rata hasil

:

8-12 ton/Ha/Thn

8-12 ton/Ha/Thn

15-20 ton/Ha/Thn

Berat per 100 biji

:

35 gr

34 gr

70 gr

Kadar minyak

:

46%

47%

49%

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.